Friday, January 9, 2015

Candi Ijo riwayatmu dulu

Kompleks Candi Ijo
Candi ijo adalah salah satu situs budaya unik yang terdapat di Yogyakarta .Tepatnya terletak di dusun Groyokan,Sambirejo Prambanan Sleman .lokasi 1100 -32,86 BT-070 -46,55 LS.

Ijo memiliki makna Hijau, pertama kali nama ini muncul terdapat dalam prasasti “poh” bertahun 906 masehi. Dalam prasasti tersebut di sebutkan pada suatu upacara terdapat utusan yang bersal dari gunung ijo.Hal tersebut ter catat demikian “Wuang Ijo....anak wanua..i ..wuang hijo-...

Candi yang bercorak Hindu ini masih belum terkuak secara rinci bagaimana sejarah pendirianya. Pemilihan lokasi dan materi bangunan yang berbeda dengan candi-candi Hindu yang terdapat diwilayah lain di seputar Prambanan.

Dari tipe-tipe umum yang lazim pada peninggalan bangunan Hindu yang lain candi Ijo tergolong unik.

Pemilihan Tempat Pendirian

Lazimnya pendirian bangunan Hindu berupa cadi-candi berpedoman pada kitab kuno ,diatur oleh ketentuan-ketentuan umum yang berlaku.

Berbeda dengan candi-candi lainya yang berdiri di seputar bantaran kali Opak,Candi Ijo dibangun di atas bukit Candi Ijo, dengan ketinggian kurang lebih 427 DPL. Gunung ijo ini termasuk deretan pegunungan batu kapur yang sangat kering, tipe dataran pegunungan selatan yang di sebut juga dengan Batur Agung. Dari sisi ini sudah terlihat perbedaan yang unik. Berpedoman pada kitab kuno umat Hindu pemilihan tempat untuk pembangunan candi biasanya menjadi persyaratan yang sangat penting,Vastu-Air persyaratan yang penting. Biasanya pembangunan candi-candi ini memilih tempat yang basah berair dan subur, karena dianggap tempat-tempat yang demikian itu adalah tempat tinggal utama bagi dewa dan manusia menurut kepercayaan Hindu. Unik dan masih misteri Candi ijo dibangun di puncak bukit yang kering.

Dari reruntuhan candi yang belum sempat direnofasi terlihat banyak sekali umpak-umpak batu yang diperkirakan sebagai landasan tiang-tiang kayu. Selain dari bangunan batu andesit dan batu breksi yang digunakan sebagi bahan utama pemabangunan candi ini, diperkirakan komplek candi ini juga dibangun dengan menggunakan bahan kayu.

Yang lebih unik di beberapa candi pewara, yang terdapat di bagian barat candi utama ,beberapa candi itu dibangun dengan memahat bukit batu. Karena jenis batu putih breksi ,yang menyerupai batu kapur ini strukturnya lebih lunak sehingga bagian-bagian candi yang terbuat dari bahan ini menjadi lebih cepat rusak dan aus, terutama bagian-bagian yang terdapat pahatan-pahatanya .

Pada dasarnya pemilihan lokasi pembangunan candi yang terdapat diseputar Jogyakarta ini prinsipnya terbagi dalam dua tipe,yakni.

-Tipe dataran pegunungan perbukitan selatan Batur Agung dikenal juga dengan nama Gunung Ijo yang memanjang dari utara keselatan.
-Dataran ,sepanjang kali opak baik sisi barat atau sisi timur.

Kelompok candi yang terdapat di dataran tinggi Batur Agung ini meliputi candi Kraton Ratu Boko, Candi Banyu Nibo, Candi Barong, Candi Dawang Sari, Candi Miri, Candi Ijo dan lain-lain.

Sementara itu candi yang terdapat di dataran sepanjang kali Opak baik itu di sisi barat atau timur meliputi, kelompok situs Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Bubrah, Candi Sojiwan, Candi Kalasan dan lain-lain.
Selain lokasi pendirian candi yang tidak seperti biasanya, Candi Ijo juga unik dalam penataan bangunan candi. Sebagian candi yang terdapat dikawasan prambanan penataan menganut prinsip-prinsip penataan bersifat kosmis–memusat, yakni dengan penataan melingkar, bangunan candi utama di letakkan ditengah. Sekelilingnya dikitari candi perwara yang lebih kecil.

Pada Candi Ijo penataanya memanjang dari timur ke barat dengan bangunan utama berada di timur bagian paling tinggi, penataan ini seperti penataan candi-candi gaya Jawa Timur.

Arsitektur bangunan candi ini diperkirakan merupakan gaya abat 9 hingga 10 masehi. Jadi ditilik dari pemilihan lokasi bangunnan, susunan bangunan, maupun bahan yang dipakai ,Candi Ijo tidak sama dengan tipe-tipe pembangunan candi yang ada diwilayah ini secara umum.

Sesuai dengan tempatnya yang berbukit-bukit bangunan Candi Ijo terbagi dalam 11 teras yang membujur dari timur ke barat. 11 teras ini di tempati sekitar 17 gugusan bangunan candi besar kecil.
Secara umum tipe bangunanya dibagi dalam dua jenis, yaitu bangunan yang beratap dan bangunan terbuka. 17 candi yang ada di bedakan menurut letaknya.

Ditilik dari hiasan kala makara, kaki candi dengan bingkai setengah lingkaran candi ini diperkirakan dibangun pada kisaran abat 9 hingga 10 masehi.

Penemuan Candi

Candi Ijo pertama kali ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama H.E Doore Paal pada tahun 1886. Doore yang merupakan seorang Administratur pabrik tembakau virginia, votenseend yang terdapat di kaki bukit Gunung Ijo, desa Sorogeduk secara tidak sengaja menemukan candi ini. Waktu itu Doore sedang mencari lahan untuk penanaman tembakau.

Pada tahun 1887 Dr.J Gromerman melakukan penggalian yang pertama kali di sumuran candi induk. Pada penggalian itu ditemukan lembaran-lembaran emas bertulis, cincin emas dan biji-bijian.

Setelah penemuan oleh H.E Doore Paal ,dan penggalian pertama di ikuti oleh penggalian-penggalian berikutnya.

Penemuan-penemuan Lain

-Tahun 1886 ditemukan bermacam-macam artefak
-C A Rosemeier menemukan 3 arca batu di teras 5, arca ganesha, arca Shiwa bertangan 4 dan batu bertulis.
-Tahun 1887 Leideevel Ville menemukan kembali lembaran emas bertulis, cincin emas ,batu mulia, besi dan biji-bijian.
-1956-1962 M.M.Soekarto menemukan fragmen arca Shiwa Maha Guru dan batu bulat yang bertuliskan mantra-mantra.
-Tahun 1985 ditemukan fragmen arca Durga, Agastya dan 4 arca pariwara .
-1998 saat dilakukan pembongkaran candi perwara ditemukan arca nandi dan padmasana.Saat ini kedua arca itu diletakkan di dalam bangunnan candi perwara persis di depan candi utama.

Temuan temuan lain berupa tangkai cermin (darpana) gerabah, dan beberapa keramik Cina.
Masih banyak keunikan yang dapat disaksikan di situs Candi Ijo ini, dan juga keunikan-keunikan yang belum terungkap hingga hari ini.

Setiap hari Candi Ijo di kunjungi beberapa orang saja dari berbagai golongan, terutam anak-anak muda yang mencari suasana berbeda. Meskipun jalan menuju lokasi ini terbilang sulit namun penat akan terobati setelah sampai di lokasi ,dengan pemandangan yang indah ke arah Jogjakarta. Dari sisi selatan candi kita dapan memandang dataran Jogja. Pebukitan patuk wilayah kabupaten Gunung Kidul dan tebing-tebing batutu dibawahnya. Apalagi jika malam hari, terlihat sangat indah dengan kerlap kerlip lampu yang beraneka warna.

Dilihat jumlah pengunjung sangat beda jauh dengan Ratu Boko, apalagi candi Prambanan. Sepinya pengujung di tengarai disebabkan oleh kurangnya pemberitaan dan lokasi yang berada di puncak bukit.

Mudah-mudahan masa yang akan datang aset yang teramat berharga ini dapat dinikmati oleh banyak orang, menjadi pusat pembelajaran sejarah yang penting dan pada giliranya membawa dampak soisial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.


-------------------------
Penulis: Drs. Nurochman
Guru Seni Budaya SMP Negeri 4 Prambanan

0 komentar:

Post a Comment